Sekelumit Tentang Sejarah Kuningan

Pada zaman dahulu menurut cerita Parahyangan, ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan – Sang Tumanggal – dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.

Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning – keparamartaan, sehingga Kuningan waktu menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:

1. Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka – Bandung)

2. Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan

3. Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali

Perkembangan kerajaan Kuningan selanjutnya seakan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan Rakean Darmariksa dan merupakan daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran. Cirebon juga pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan Pajajaran, namun pada abad ke-15 Cirebon sebagai kerajaan Islam menyatakan kemerdekaannya dari Pakuan Pajajaran.

Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.

Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta beliau memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.

Setelah Pangeran Kuningan dan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan.

Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu (putra Prabu Langlangbuana). Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma) dan banyak lagi pesantren lainnya.

9 thoughts on “Sekelumit Tentang Sejarah Kuningan

  1. Pakuwan Mohosinto Winduherang
    Tempat atau wilayah asal muasal Sejarah Peradaban Manusia dan Sejarah Pewayangan
    Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
    “ Winduherang sendiri itu sudah dikenal pada tahun 420 SM, dimana pada saat itu yang sudah dikenal Rajanya Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau adalah Sang Pandawa Wiragati Raja Kuningan. Beliaulah yang mengeluarkan ajaran HASTABRATA (8 ajaran pemimpin yang bersih )maka dari situlah nama Winduherang diambil, yang sebelumnya nama Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Rajatapura atau orang mengenalnya wilayah tempat asal muasalnya Medang Kamuliaan dalam tokoh Pewayangan, Winduherang sendiri sudah dikenal sebagai Dayeuh atau puseurnya Ibukota yang dikatakan MOHOSINTO, karena disitu pada tahun 230 SM sudah berkedudukan Sang Maha Raja Besar yang dikatakan Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Bhima Prakarma Sang Iswara Digwijaya Surya Maha Purusha Jagat Pati atau kita mengenalnya Pangeran Arya Adipati Ewangga, yang sudah bisa menguasai Dunia luar baik itu Barat dan Timur karena beliaulah yang pertama mendapatkan kejayaan keemasan di Nusantara sehingga beliau di katakan sebagai SUNDA dari kata Dewa Matahari. Sebelum mengambil nama Winduherang kita memang sudah mengenal kata RAJATAPURA karena disinilah asal muasal pertama adanya peradaban kerajaan pertama karena di Kuningan sendiri mengacu dari awalnya/adanya kerajaan pertama di Nusantara yang dikatakan SALAKANAGARA. Sebelum nama Winduherang dikenal nama Winduherang itu sudah banyak dikenal ada yang menyatakan bahwa Winduherang itu sebelumnya dikenal sebagai SINGAJAYA atau yang dikatakan SINGAJAYA RAJATAPURA dan mengenalnya SINGAPURA karena sebelum masuk ke Winduherang itu ada nama SIDAPURNA. Kemudian setelah mendapatkan kejayaan (kita kembali ke cerita 230 SM) pada jaman Kerajaan Taruma Nagara, disaat itu yang mendapatkan Kejayaan itu Pangeran Arya Adipati Ewangga atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman disitu masih dikatakan RAJATAPURA atau PAKUWAN MOHOSINTO sebagai Ibukota Dayeuhnya KUN ING AN , sehingga beliaulah yang dikatakan dalam Pewayangan sebagai Bhatara Surya. Sehingga nama Winduherang sendiri itu dikenal pada jaman Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya yang dikenal sebagai Sri Baginda Maha Raja Candra Warman sebagai Raja Taruma Nagara ke 7 sebagai Dinasti daripada Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati Ewangga, sehingga beliaulah yang mengeluarkan 8 atau windu atau ajaran yang bersih atau herang yang dikatakan HASTABRATA yaitu ajaran seorang pemimpin yang bersih yang terdiri dari sifat atau watak :
    1. Matahari
    2. Bulan
    3. Bintang
    4. Api
    5. Mega/Mendung
    6. Air
    7. Bumi
    8. Samudra
    Sehingga disitulah Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang PANDAWA Raja Kuningan yang mengumandangkan satu ajaran Dangiang Kuning atau 10 ajaran tentang kebaikan hidup umat manusia karena disitulah sehingga pada tahun 420 SM disaat Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa Raja Kuningan yang dikenal sekarang namanya Pangeran Rama Jaksa Patikusuma mengumandangkan menjadi nama WINDUHERANG

    SYARIF JUANDA (Anggota DPRD Kabupaten Kuningan) :
    “ Tidaklah terlalu sulit kiranya kalau untuk meyakinkan khalayak bahwa Cerita/Sejarah Winduherang yang mana berkaitan dengan nama-nama Pewayangan itu bukanlah rekayasa, salah satu pembuktiannya sangatlah mudah yang mana kita tahu bahwa ajaran Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya atau Sang Pandawa atau Sang Ramayana atau Pangeran Rama Jaksa Patikusuma beliau yang mengeluarkan ajaran 10 Pedoman kebaikan hidup umat manusia, ini tertulis dalam beberapa Naskah Tua yang dijadikani rujukan para Sejarawan Nasional, ketika bicara 10 Pedoman kebaikan hidup umat Manusia nama-nama Pewayangan Sang Pandawa ini ada ketidak fairan para ilmuwan nasional kenapa Sang Pandawa tidak diakui bahwa beliau adalah sosok Raja Kita, kenapa kita lebih percaya bahwa Sang Pandawa ini konon berasal dari India, kan kita malu,.. sementara ini kita tahu bahwa para ilmuwan dunia justru mengakui bahwa PANDAWA atau cerita pewayangan adalah kisah nyata yang berasal dari Pulau Jawa, tidak ada didaerah manapun tidak ada Raja Mana pun yang memiliki nama Pewayangan selain KUNINGAN.

    Kang AGA NUGRAHA (Pemerhati Sejarah Kuningan dan Ahli Kosmologi) :
    “ Ternyata di Kuningan itu ada ranah atau wilayah seperti titik Winduherang itu sangat punya garis utama dari bidang kosmologi sehingga ini bisa dijadikan pendekatan untuk mencairkan kebekuan makna dari Legenda bahkan dari dongeng. dan disini ditemukan beberapa titik atau situs dan ini sangat menunjang sekali dari titik kosmologi dan dari satu sisi kosmologi ini kita mengkaji dari sisi bahasa, sehingga di Winduherang itu ada nama-nama wilayah yang sifatnya sangat menunjang untuk pengkajian dari sisi Kosmologi

    Raden Sri Candra Patikusuma (Penulis Sejarah Kuningan):
    “ Di Winduherang ada mengenal beberapa kesenian yang diantaranya sudah banyak terlupakan tarian Golewang, tarian yang melambangkan satu penghormatan menyambutnya tentang Para Dewa, memang tarian ini tidak jauh berbeda dengan tarian lainnya yang ada yang banyak dijalankan di Sunda, akan tetapi tarian Golewang ini memang dijalankan dengan ritual-ritual tertentu. Kemudian yang kedua ada yang dikenal dengan barongsai atau kesenian Buraq atau Buroq yang sudah punah atau memang dilupakan yang sebetulnya inilah kesenian yang pertama dari Winduherang yang menggunakan sebagai gambaran kebesaran Kereta Paksi Naga Liman. Buroq itu adalah cerita/budaya yang menggambarkan satu tunggangan kebesaran Raja Sura Liman Sakti atau beliaulah sendiri yaitu Pangeran Arya Adipati Ewangga yang menggunakan tunggangan kereta Paksi Naga Liman, itulah yang selama ini memang di Kuningan sendiri sudah agak pudar dan memang banyak menjauh ke wilayah-wilayah luar wilayah Kuningan, karena memang itu kebetulan tradisonal yang sangat besar sekali kalau kita merunut ke asal muasal ya itulah daripada jaman Pangeran Sura Liman Sakti atau Pangeran Arya Adipati Ewangga. Kemudian ada juga Genjring dan Reog dan inilah pada masa kesenian beliau atau Sri Baginda Maha Raja Purnawarman (Pangeran Arya Adipati Ewangga) dan Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/Sang Pandawa Raja Kuningan (Pangeran Rama Jaksa Patikusuma) , tapi sampai saat ini yang memang masih sering dilaksanakan dalam upacara-upacara penyambutan Hari Jadi Kuningan khusunya di Winduherang yaitu untuk Golewang masih dilakoni walaupun memang jarang.
    SYARIF JUANDA (ANGGOTA DPRD KABUPATEN KUNINGAN) :
    “Sangat prihatin, memang dalam hal ini budaya dikembangkan atau dipelihara, tapi kenapa ini hanya dijadikan sebagai budaya to, Negara ini akan menjadi besar justru dari nama Besar dan Jasa-Jasa Besar Beliau-Beliau para pendiri NUSANTARA.

    SRI CANDRA PATIKUSUMA (Penulis Sejarah Kuningan)
    “ Makom-makom dan nama-nama Raja – Raja yang tertulis di dalam Panggung Sejarah Nasional dan sejarah Pewayangan ada di Winduherang Kuningan Jawa Barat.
    “Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto dalam buku sejarah nasional Indonesia tahun 1970 menyatakan” bahwa Panggung-panggung peristiwa sejarah nasional dan nusantara nama-nama keberadaannya ada di wilayah Jawa Barat bagian timur tepatnya KUNINGAN”. Dan ini bisa dijadikan keberatan atas pemindahan panggung peristiwa sejarah ke wilayah luar Kuningan”.

    Sudah waktu niti mangsa Sejarah Kuningan ini terbuka, Insya Allah.

  2. Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji Baduga Jaya Ratu Dewata
    Prabu Guru Dewata Jaya Prana Maha Prabu Silih Wangi
    Maha Prabu Munding Kawati/Raden Pamanah Rasa/Syeh Qudratullah
    Maha Raja Keraton Narayana Padjadjaran Kuningan

    A. Pernikahan Raden Jaya Prana dengan Istri pertamanya yakni Ibu Ratu Kentring Manik / Ratu Mayang Sunda/Ratu Sumur Bandung dikaruniai 3 orang putera,yaitu :
    1. Pangeran Sura Jaya Wisesa/Prabu Munding Wangi/Raden Gana Wijaya/Prabu Gana Wijaya//Ratu Sang Hyang/Susuhunan Pajengan SUNDA/Adipati Sunda Kalapa ke 1 atau Pangeran JAYA KERTA (JAYA KARTA ke 1), nama lain dari beliau adalah SYEH ABDUL RACHIM, dan beliau dikenal pula dengan nama lainnya yaitu KI GEDENG KUNINGAN.
    2. Nama aslinya Raden Brata Wijaya sebagai Adipati pesisir Banten – Sukabumi, beliau memiliki gelar kebesarannya yakni PANGERAN ARYA KAMUNING. Nama lain dari beliau adalah Raden Amonggati dan Raden Surosowan, dinamai Surosowan karena beliau pernah mendapatkan tugas mulia dari Sang Aki Luhur Mulia (Aki Cirem) untuk menata serta meluruskan ahlaq dan perilaku umat di jajirah Persia yang jahiliyah. Sowan itu artinya bertamu/berkunjung kesatu tempat/daratan, dan dijajirah Persia inilah beliau dikenal dan mendapatkan gelar sebagai SYEH ABDUL QADIR JAILANI. Di kalangan masyarakat SUNDA sendiri beliau di kenal pula dengan gelar Prabu Munding Laya, Pangeran Arya Kamuning adalah Raja terkahir Kuningan yang memakai gelar ARYA.
    3. Ratu Surawati / Ratu Salawati, yang menikah dengan Raden Sura Kerta (Adipati Sunda Kalapa ke 2/Jaya Karta ke 2). Raden Sura Kerta adalah adik dari Ratu Kentring Manik yang tak lain Kentring Manik dan Sura Kerta adalah putera dari Raden Khan dra.
    B. Pernikahan Raden Jaya Prana dengan istri yang kedua yang bernama Ibu Ratu Wanarawati atau dikenal pula sebagai Ibu Ratu Sindangsari (yang berasal dari wilayah Galuh Pakuwan Luragung, tepatnya dari Desa Sindangsari). Pernikahan yang kedua ini Raden Jaya Prana dikarunia 2 (dua) orang putera, yaitu :
    1. Raden Suranggana, yang dikenal sebagai Adipati Banten Girang, nama lain dari beliau adalah Ki Bagus Maulana Akbar atau Syeh Maulana Akbar. Beliau mempunyai putra bernama Syeh Maulana Arifin yang mendirikan pesantren di wilayah Winduhaji.
    2. Raden Raksa Jaya Manggala atau Raden SURA JAYA MANGGALA, nama lain dari beliau adalah Buyut Nurmijan atau Buyut Pamijan dan SYEH NURFADILLAH. Beliau inilah yang kemudian dikenal dengan gelar kebesarannya yaitu KI GEDENG LURAGUNG, karena beliau adalah penguasa wilayah sekaligus sebagai pemimpin pemerintahan di Galuh Pakuwan Luragung. Ki Gedeng Luragung dikenal pula sebagai Eyang Bauraksa yang kelak dikemudian hari keturunan-keturunan dari beliau sangat dikenal dalam sejarah Betawi, yang mana ada 2 tokoh sebagai pelaku sejarah di tanah Betawi yang merupakan keturunan dari Ki Gedeng Luragung yaitu, Raden Bahrudin yang dikenal sebagai Si Pitung dan Raden Jamaludin yang kemudian dikenal sebagai Si Jampang.
    C. Pernikahan Raden Jaya Prana dengan Istri yang ke 3 (tiga) yang bernama Ratu Subang Larang dikaruniai 3 (tiga) putera, yaitu :
    1. Raden Walang Sungsang atau Pangeran Cakra Bhuana / Mbah Kuwu Sangkan Cirebon/Pangeran Gagak Lumayung, Adipati Cirebon Rarang, Syeh Bayannullah dan beliau memiliki gelar kebesaran sebagai SUSUHUNAN RANGGA PAKUWAN.
    2. Ibu Ratu Nyi Mas Rarasantang / Ibu Ratu Syarifah Muda’im yang mana beliau menikah dengan Sultan Mesir yaitu Raja Hud Sultan Syarief Abdullah. Pernikaha Nyi Mas Rarasantang dengan Raja Hud dikaruniai 2 orang putera yaitu :
    a. Raden Syarief Hidayatullah yang kemudian dikenal dengan gelar Sinuhun Jati atau Sunan Gunung Jati, yang mana beliau mendapatkan gelar Jati ketika beliau sedang menjalankan Panji Karesian sebagaimana yang telah dijalankan oleh para leluhur beliau, gelar Sinuhun Jati atau Sunan Jati ini didapt ketika beliau sedang menjalankan Tirakat di Kramat Jati Winduherang Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Sinuhun Jati menikah dengan Putri dari Cina yang bernama Ong Tien Nio dan dikaruniai seorang putera bernama Raden Gantangan yang kelak dikenal dengan nama Adipati Kuningan/Dipati Ewangga (nama Ewangga ini dipakai oleh beliau sebagai tanda bakti dan penghormatan beliau kepada leluhurnya yaitu Pangeran Arya Adipati Ewangga Sang Hyang Bhatara Surya). Raden Gantangan ini dilahirkan di Luragung, yang mana masyarakat Kuningan mengenalnya dalam peristiwa Bokor Kuning. Raden Gantangan di rawat dan diasuh serta dididik oleh Ki Gedeng Kuningan di Winduherang.
    b. Raden Syarief Nurullah.
    3. Raja Sangara atau Raden Mulk Iman atau dikenal sebagai Prabu Kian Santang. Beliau dikenal pula sebagai Syeh Abdul Muhibat
    D. Pernikahan Raden Jaya Prana yang ke 4 (empat) dengan Ratu Asih Putih dan dikaruniai 4 orang putera, yaitu :
    1. Pangeran Maulana
    2. Pangeran Yunan
    3. Pangeran Api
    4. Nyi Mas Rara Bagdhad

    Sejarah Kuningan Barometer Nasional
    KEBERADAAN sejarah Keraton Padjajaran di Bogor membuat tokoh masyarakat kuningan angkat bicara. Dari berbagai aspek bukti sejarah, seorang penggali sejarah dan juga mantan Sekda Kuningan, H.E Madrohim melalui pemerhati sejarah, Syarif Juanda, menyimpulkan, letak Keraton Padjajaran..sesungguhnya..berada..di..kuningan.

    Menurut sesepuh kuningan sekaligus sebagai sesepuh susuhunan luhur mulya, H.E Madrochim, sudah saatnya masyarakat kuningan menggali sejarahnya sendiri. Misalnya, tempat para dewa atau kahyiangan yang disebut sebagai Pararaton Panca Padjadjaran Ing Medang Kamuliaan Kuningan Salakadomas.

    “Nama Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati adalah Nama Keraton di Tatar Sunda pada zaman buhun yang sudah tidak asing lagi di masyarakat Jawa Barat,” katanya.
    Dijelaskan, Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, merupakan lima Keraton besar yang berjajar dari arah utara ke selatan yang terbagi oleh garis tengah terusan sungai Cilengkrang Kurucuk di kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. “Wilayah inilah yang terletak di Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan itu pula yang dimaksud dengan Padjadjaran,” imbuhnya.

    Disamping itu, Keraton Padjadjaran adalah Keraton yang mengemban dan memandu Panca Pandawa Keraton Susuhunan Penguasa Jagat Pati. Inilah yang dikatakan Pakuwuan/Pakuan, tempat kedudukan Pusar Lingga Kerajaan sebagai tempat bersemayamnya Yang Agung Yang Dimuliakan, Sri Baginda Maha Raja Ismaya (Sang Hyang Bhatara Ismaya) Sri Badranaya Kartika Sakti Kerta Wibawa Sakti Mandraguna, atau dikenal dengan nama Aki Cirem.

    “Tiap Keraton tersebut mengandung pengertian berbeda, Keraton Sri Suradipati adalah bermakna sebagai Keraton Induk yang berkedudukan di Winduherang sebagai Pusat Dayeuh Sundapura dengan Sri Baginda Maha Raja Ismaya sebagai Sang Maha Mentri, Pusat Pemerintahan Jagat Pati,”..tegasnya.

    Menurutnya, Keraton Sri Bima berkedudukan di Lingga Jati (sekarang Objek Wisata Pemandian) yang mana sebelumnya berkedudukan di Winduherang. Keraton Sri Punta Pertama berkedudukan di Balong Dalem Jalaksana (sekarang Objek wisata Balong Dalem), kemudian berpindah ke Cipari (Sekarang..Museum..Purbakala).

    Selanjutnya, Keraton Sri Narayana pertama kali berkedudukan di Cijoho (Sekarang Leles belakang LP) yang kemudian lokasinya berpindah ke Manis Kidul (sekarang Objek Wisata Cibulan). Sementara, Keraton Sri Madura berkedudukan di Cigugur (sekarang Objek wisata Pemandian Cigugur).

    “Keraton Padjadjaran itu beberapa kali mengalami perpindahan tempat, namun tidak berpindah ke lokasi lain (hanya perubahan nama) dengan tanpa merubah arah lokasi, atau tetap berjajar dari arah Utara ke Selatan, dibawah kaki Gunung Ciremai sebelah Timur. Hal itu terjadi pada masa Taruma Negara/Jagat Pati, yaitu zaman Kala Ruba berkisar tahun 400-500 sebelum masehi,”ungkapnya.

    Selain itu, Keraton Sri Bima awalnya berkedudukan di Keraton Sri Suradipati (Winduherang), kemudian pada zaman Wisnu Warman/Raden Kandyawan memindahkan Keratonnya ke Medang Jati-Medang Sana atau sekarang wilayah Lingga Jati dan Lingga Sana. Tempat ini tetap bernama Keraton Bima. Sementara, Keraton Sri Sura Adipati berkedudukan di Winduherang yang dijadikan sebagai..Keraton..Induk/Pusat.

    “Raden Kandyawan atau Pangeran Sura Liman Agung yang bergelar Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati merupakan putera Sri Purnawarman alias Pangeran Arya Adipati Ewangga yang..bergelar..Raja..Resi..Dewaraja..atau..Dewangga,”terangnya.

    Sebagai pelengkap kada Adi, berikut nama-nama Raja yang bertahta di tiap Keraton masing-masing. Keraton Sri Sura Adipati diantaranya, Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Jagatpati/Pangeran Arya Adipati Ewangga/Sura Liman Sakti/Raja Resi Dewa Raja, Sang Hyang Batara Wisnu/Raden Kandyawan/Pangeran Arya Adipati Sura Liman Agung/Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati Kusuma, Sang Rama Jaksa Pati Kusuma/Sang Pandawa/Rama Wijaya/Sri Baginda Maha Raja Candra Warman dan Raden Demunawan /Sri Maha Prabu Resi Guru..Saweukarma.

    Kemudian, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Bima, diantaranya yaitu Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman/Sang Hyang Batara Wisnu/Begawan Sat Mata/Sang Layuwatang, Pangeran Lingga Kusuma Yuda/ Sri Baginda Raja Lingga Warman, Maha Prabu Tarusbawa (Tohaan), Sri Maha Raja Haris Darma Yuda/Sanjaya dan Sri Maha Prabu Raden Darma Siksa/Prabu Guru Darma Siksa Para..Amarta..Sang..Maha ..Purusa..(Titisan..Batara..Wisnu).

    Adapun Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Punta pertama saat berkedudukan di Jalaksana (Balong Dalem) diantaranya yaitu, Raden Mandi Minyak (Jala Antara), Raden Brata Senawa/Sena (Hantara) dan Raden Wijaya Kusuma/Purba Sura. Kemudian, Raja-Raja yang Bertahta di Keraton Sri Punta ke dua saat berkedudukan di Cipari diantaranya yaitu, Raden Wijaya Kusuma/Raden Purbasura, Raden Permana Dikusuma Ajar Padang Sukaresi Begawat Sajala-jala dan Raden Surotoma/Ciung..Wanara..atau..Arya..Santana.

    Terdapat pula, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana pertama yang berlokasi di Cijoho (Leles belakang LP) diantaranya yaitu, Sang Pandawa/Sri Baginda Maha Raja Candra Warman/ Rama Wijaya/Begawan Nara Pati Wasu Brata. Keraton ini dijadikan sebagai pusat keraton Galuh Pakuan yang mana beliau bergelar Prabu Anom/H. Alit.

    Kemudian, Keraton tersebut pindah ke Cibulan yang sekarang sebagai Objek Wisata Pemandian. Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Narayana Cibulan diantaranya yaitu, Sang Rama Wijaya/Dharma Kusuma/ Sri Baginda Maha Raja Candra Warman, Sang Maha Prabu Wretikandayun/ Raden Sri Sura Dharma, Sang Purba Wisesa/Sang Haliwungan dan Sri Baduga Jaya Ratu Haji, yang sekarang kita kenal dengan nama Prabu Siliwangi.

    Terakhir, Raja-Raja yang bertahta di Keraton Sri Madura saat berkedudukan di Cigugur (Sekarang Objek Wisata Kolam Pemandian) diantaranya yaitu, Sri Maha Prabu Wretikandayun/ Raden Sri Sura Dharma, Sri Maha Raja Haris Dharma Yhuda/Raden Sanjaya, Raden Tamperan Bramawijaya, Raden Kamarasa Arya Banga Sang Jaya Jago dan Raden Surajaya Wisesa/Prabu Guru Gantangan/Ratu Sang Hyang/ Ki Gedeng Kuningan.

    • Artinya; sblm ada pajajaran berarti kuningan lbh dulu ??
      Luarbiasa ternyata kuningan lebih dr sebuah mahakarya. Tapi situs2 nya spt nya kurang terkenal ke masy umum. Kuningan memamng asri. Saya suka kuningan.

  3. KUNINGAN KAJENE

    Setelah menyampaikan beberapa penelitiannya ke publik, terkait sejarah kerajaan Kuningan, H.R.E. Madrohim, yang merupakan sesepuh Kuningan kembali mengupas Pemerintah Saunggalah yang terletak di Kaki Gunung Ciremai Kuningan, Jawa Barat. Saunggalah (Kajene / yang dimuliakan), menurutnya memiliki kesuksesan cukup gemilang saat Sang Resi Guru Seuweukarma, atau Raden Demunawan yang bergelar Maha Resi Prabu Demunawan, diberikan Mandat oleh Sang Pandawa, atau Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya Raja Jagat Pati Kuningan Kamuliaan tahun 645 SM .

    Menurutnya, nama Saunggalah sendiri diambil dari satu makna sebagai payung negara, atau sebagai pusat keseimbangan kekuasaan tanah Jawa. “Raden Demunawan kala itu mendapatkan mandat dari Sang Pandawa atau Sri Baginda Maha Prabu Rama Wijaya, untuk melanjutkan satu Panji Karesian dan memegang dua Keberhasilan, yaitu sebagai Buyut Aden dan Guru Haji, sebagai pusat penyeimbang antara kekuasaan dan Karesian. Ia pun diberikan gelar kebesaran oleh Sang Pandawa dengan gelar Rahyangtang Kuku, sebagai Raja Kerajaan Jagat Pati Kuningan.

    Sang Pandawa sendiri, kata Madrohim, adalah sebagai Sang Dalam Mangukuhan dan Karesian, karena Sang Pandawa sebagai Ketua Raja-Raja Kekuasaan Tanah Jawa yang bergelar Sri Maha Prabu Rama Wijaya. Setelah Sang Pandawa memberikan mandat dan memberikan Pengukuhan kepada Raden Demunawan sebagai pemegang kekuasaan karesian di Tanah Jawa, kemudian Sang Pandawa sendiri akhirnya menjadi seorang Narapi Begawan Maha Purusa Sakti, untuk membawa umat menuju kebenaran, keadilan dan satu keyakinan yang kuat tentang adanya Sang Maha Pencipta atau Tuhan yang Maha Esa. “Beliau dikenal sebagai Pangeran Rama Jaksa Pati Kusuma Sang Cahaya Bulan, sebagai penerus Dinasti Surya atau Pangeran Arya Adipati Ewangga,” terangnya.

    Diceritakan Madrohim yang didampingi salah seorang putranya, Sony Adi Candra (penulis Sejarah Kuningan), keberhasilan Saunggalah mulai memancarkan kebesarannya di saat dilaksanakannya perjanjian Taraju Mangyuga Jawa Dwipa. Saat itu Sang Pandawa Sang Maha Purusa Sakti Surala Dewangga Agung Sang Para Amartha, memperkuat departemen Raja dan Karesian untuk menyeimbangkan kekuasaan-kekuasan Tanah Jawa dan Nusantara, bahkan sampai Dunia.Pada perjanjian tersebut, lanjutnya, telah menghasilkan 10 pasal yang berintikan satu keseimbangan kekuasaan, untuk menyempurnakan dan meleraikan pertikaian kekuasaan Sunda dan Galuh yang masih satu saudara (Bratayudha 2), di antanya pasal 4 menyatakan, mengangkat Raden Kamarasa atau Arya Banga (Sang Jaya Jago ) sebagai Raja Penguasa Sunda, dengan gelar Prabu Kerta Buana Yasawiguna Haji Mulia.

    Pasal 5 menyatakan, mengangkat Raden Suratoma atau Ciung Wanara atau Arya Santana sebagai Raja Penguasa Galuh, dengan Gelar Prabu Jaya Perkasa Mandala Iswara Salaka Buana.Pasal 6 menyatakan, menobatkan Raden Demunawan Sang Seuweukarma, dengan gelar Maha Prabu Resi Guru Demunawan sebagai Susuhunan (yang dipertuakan) di tanah Jawa. “Ia berkedudukan di Saunggalah (Arile) Wirata Kamuliaan Kuningan, dimana Saunggalah juga sebagai Pusat Ibukota atau dayeuh di tanah Jawa yang merdeka, sebagai tempatnya para leluhur Jagat Pati, yang dimuliakan dalam mengemban tugas mulia, yaitu membela Kebenaran dan Keadilan, juga membasmi keangkaramurkaan, “jelasnya.

    Ditambahkannya, Raden Demunawan Sang Saweukarma juga memberikan keyakinan kepada umatnya untuk percaya adanya Sang Maha Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ia juga menobatkan dan mengangkat Raden Jamri yang Bergelar Raden Sanjaya, sebagai Raja Penguasa Medang Bumi Mataram. Pasal 10 menyatakan, semua wilayah kekuasaan Maha Prabu Resi Guru Demunawan Seuweukarma sebagai Raja Kuningan, harus dihormati semua pihak baik di Nusantara atau Negara Luar, sebagai penerus Tahta Kejayaan Sang Pandawa Sri Maha Prabu Rama Wijaya, atau Sri Baginda Maha Raja Candra Warman.

    “Di antara mereka yang bertikai tidak bisa melanggar perjanjian yang telah disepakati, dan harus sejalan dengan peraturan yang Tunggal, yaitu aturan atau kaidah dari Sang Maha Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa, agar senantiasa selalu diberikan Rahmat dan dilimpahi keberhasilan untuk Putera dan Cucunya, sampai waktu yang akan datang, “kata Madrohim yang juga didampingi pengamat Sejarah dan anggota DPRD Kuningan dari Partai Demokrat, Syarif Juanda.

    Menurut mantan Sekda dan Ketua DPRD Kuningan era 70-an ini melalui putranya yaitu Soni Adi Candra (Penulis Sejarah Kuningan) mengungkapkan, kesuksesan Saunggalah mulai ada penataan kembali di saat zaman kejayaan Maha Prabu Guru Darmasiksa Para Amartha Sang Maha Purusa (Titisan Bhatara Wisnu terakhir), tahun 1079 SM/1175 M.”Sebagai Raja Kuningan Susuhunan Penguasa Jawa Barat selama 122 tahun, Saunggalah merupakan seorang Raja yang masih dipercaya sebagai Susuhunan Raja Kuningan dan sebagai pusat dayeuh Ibukota dan Pemerintahan di Tanah Jawa,” ungkapnya.

    Keberhasilan Prabu Darmasiksa sebagai Susuhunan Tanah Jawa, kata Madrohim, adalah sebagai Sang penyeimbang untuk kekuasaan tanah Jawa menuju satu transisi kekuasaan, dari Pemerintah Singosari terakhir pada masa Kerta Negara (Buyut Eyang Weri), sampai terbentuknya Pemerintah Besar di wilayah timur, yaitu Wilwatika Majapahit, oleh Sang Cucunya, yaitu Raden Kardin Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya).

    “Pada masa Prabu Darmasiksa Sang Maha Purusa, mulailah adanya sebuah Papakem (aturan) untuk melaksanakan suatu tatanan, yang merupakan sebuah kehormatan dalam menjalankan Roda Kekuasaan, yang harus dilaksanakan berdasarkan titik rute perjalanan, atau Titik kosmis dari para leluhur Raja Kuningan Kamulian, guna menjadi seorang Raja yang bersih menuju suatu Tahta yang Bermahkota, yang harus bisa mengemban Panji-panji para leluhurnya, Sang Raja Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan Kamulian, “jelasnya.

    Dijelaskannya, Panji untuk menghormati leluhur dalam melaksanan kembali tatanan perjalanan menuju satu pusat dayeuh Kekuasaan, sebagai tempat Keraton Sang Penguasa melalui Route Perjalanan, diawali dari arah timur Kuningan pada posisi kosmis 7 derajat Lintang Selatan , tepatnya berada di wilayah Luragung. Wilayah tersebut merupakan tempat berlabuh kembali Sang Para Raja Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan Kamulian melalui Sungai Sanggarung, dari arah laut menuju kembali ke Keraton Pemerintah Jagat Pati Kuningan, yang berada di Sundapura Winduherang (Pusat dayeuh), pada zaman Sri Maha Raja Purnawarman atau Pangeran Arya Adipati Ewangga.
    matan Sang Penguasa, untuk menggapai satu Kesuksesan yang diberkahi. Dari sinilah Sang
    “Perjalanan selanjutnya menuju satu tempat Sang Penguasa atau Pakuwan, yang berkedudukan di Linggasana. Dari situlah Sang Prabu Guru Darmasiksa mengumandangkan satu Panji Karesian, yang harus dijadikan suatu tatanan menuju suatu penghor Prabu Guru Darmasika sebagai Sang Maha Purusa (tetesan terakhir Bhatara Wisnu) memberikan satu Panji Karesian yang berisikan Sia samemeh mangkat ka Pakuwan, ti kandang Karesian para Raja, Prabu, Resi jeung para Pandeta kudu bisa ngadegkeun Permana heula di Saunggalah , “jelasnya .

    Makna dari ungkapan itu sendiri kata Madrohim melalui putranya Soni Adi Candra adalah, dimana para Raja, Prabu, Resi dan para Pandeta dari Kandang Karesian Luragung, sebelum menuju pusat Tahta Penguasa atau Raja Diraja yang dimuliakan (Lingga Pemerintah), terlebih dahulu harus mendirikan Permana di Saunggalah. Panji ini juga berarti seorang Raja yang harus bisa mendirikan dan menguasai, atau mendirikan satu kekuatan hati yang kuat atau panceg seperti paku, yang menguasai satu kekuatan Tarekat, Syariat, Hakekat dan Ma’rifat, dengan satu kebersihan hati dan satu keyakinan yang kuat adanya Sang Maha Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa, dalam arti kata (Permana).

    H Madrohim menambahkan, pada masa kejayaan Kerajaan Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan, di Wilayah Medang Kuningan Kamuliaan sudah ada beberapa Keraton sebagai Pemerintah provinsi-provinsi, yang sudah menempati garis Route Keberhasilan Sang Penguasa Jagat Pati para Raja Kuningan yang Dimuliakan.

    “Diantara beberapa Keraton wilayah Kuningan yang masih satu kesatuan sebagai Garis Mangyuga Keberhasilan Pemerintah Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan Kamuliaan, yaitu sejak zaman Rama Guru Raja Diraja Guru Jaya Singa Warman, Sri Baginda Maha Raja Purnawarman dan beberapa Raja lainnya sebagai Raja Jagat Pati, sampai Keberhasilan terakhir Sri Baduga Jaya Maha Raja Ratu Haji Prabu Silihwangi adalah sebagai Penguasa Padjadjaran, “pungkasnya.

  4. Silsilah Kerajaan di Wilayah Kuningan

    Bissmillahirohmannirrohim.

    Assallamuallaikum wr wb.

    Sallamunqaollamirrobirrohim.

    “Pangersa ning Rebu Syukur,,,
    Kalayan Restu Whidi ning Para Raton Raja Mulia Pangagungna,,,
    Cahaya ning Rasa Urif Ngajadi ning Cahya Haji Papat Pancana Tengah ku Cahyaning Gusti Yhang Manon,,,,
    Ku Kersana Para Raja Mulia nu Ngajati ning Raraga Yugha Raja SUN-DA Kuningan Agung Yang di Muliakan,,,”

    Kahatur Kaluhuran Pangagunggna :

    1. Shang Hyang Wenang Sri Ismaya Sang Maha Mantri Aki Kuwu Semar Badranaya Kartika Eka Paksi
    2. Shang Hyang Tunggal Sri Teja Mantri Aki Kuwu Antaga Sang Raja Mantri
    3. Shang Hyang Manik Maya Sri Rama Dewa Guru
    4. Shang Hyang Bhatara Surya Ewangga Sura Liman Sakti
    5. Shang Hyang Bhatara Wisnu Sura Liman Agung
    6. Shang Hyang Bhatara Candra Sri Rama Wijaya Patikusuma

    Pada masa Kejayaan Kerajaan Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan, di wilayah Medang Kuningan Kamuliaan sudah ada beberapa Keraton wilayah-wilayah, yang sudah menempati garis ROUTE kejayaan Sang Penguasa Jagat Pati para Raja Kuningan yang dimuliakan.

    Di antara beberapa Keraton wilayah Kuningan yang masih satu kesatuan, sebagai garis Manghyuga kejayaan kerajaan Jagat Pati Tarum Nagara Kuningan Kamuliaan, telah ada sejak zaman Rama Guru Dewa Guru Raja Diraja Guru Jaya Singa Warman serta Sri Baginda Maha Raja Purnawarman Sang Ishwara Bhima Prakarma Jagat Pati, dan beberapa Raja lainnya sebagai Raja Jagat Pati, sampai Kejayaan terakhir Sri Baduga Jaya Maha Raja Ratu Haji Jaya Prana Prabu Silihwangi penguasa Padjadjaran.

    “Pada masa kejayaan Kerajaan Kuningan Jagat Pati, di saat Sang para Raja yang berkuasa di Dayeuh Pakuan Windu Salaka Sunda Pura Dayeuh Kolot, telah banyak wilayah yang berkedudukan sebagai Ratu wilayah di daerah-daerah yang terbagi atas dua wilayah kekuasaan Sunda dan Galuh, yang masih terpusat di Dayeuh Pakuan Windu Salaka sebagai pusat Ibu Kota dan Pemerintahan.

    Keraton kerajaan wilayah-wilayah tersebut yaitu … : Wilayah Timur terdiri dari… : Kerajaan Purwa Sanggarung Maneungteung (Prabu Gorawa), Luragung Dukuh Maja, Gunung Karung (Prabu Wangi Bubat Lingga Buana, Ratu Dyah Pitaloka, Pandita Sukmajati atau Prabu Karung Maralah), Karang Kancana Gunung Pojok Tiga (Prabu Niskala Wastukancana, Prabu Braja Buana Sakti Kumpay), Cipu Nagara / Cinagara Lebakwangi (Prabu Naga Jaya Warman, Prabu Tambak Baya), Karang Kamulyan Ciawi..(route..Prabu..Rama..Wijaya).

    Sementara wilayah Selatan terdiri dari … : Jongring Salaka Babakan Cigadung (Rama Dewa Guru), Darmaloka Jagara (Syeh Subakir, Maha Resi Santanu ), Sagara Hyang Salia Jambar (Prabu Jaya Satya Nagara), Salajambe Begawat (route Bhatara Wisnu), Subang Mandapa Jaya (Ratu Mandapa), Hantara (route Prabu Brata Sena), Pakembangan Garunggang Ciniru (Prabu Sangga Basah, Prabu Sempak Waja, Prabu Ajar Padang Begawat Sakti Sajala-jala / Raden Permanadikusumah, Prabu Arya Santana Ciung..Wanara,Prabu..Tambak..Wesi,.Prabu..Kerta..Nenggala).

    “Sedangkan wilayah Tengah, terdiri dari … : Sindang Agung Prabu Kertayasa, Resi Seuweukarma Taraju, Prabu Destarata Jaya Giri Palutungan, Cigugur (Shang Wreti Kandayun), Cipari (Raden Purbasora/Prabu Wijaya Kusumah), Gunung Keling (Prabu Watu Gunung/Prabu Pulasara), Winduherang (Keraton Pusat Dayeuh/Rajata Pura /Saunggalah), Leles Dago Jawa Cijoho (Prabu Anom Rama Wijaya, Prabu Tamperan, Prabu Panangkaran, Prabu Jaya Dewata, Dewi Ayu Sangkari),” jelasnya.

    Untuk Wilayah Utara, terdiri dari … : Balong Dalem Jalaksana (Sena), Cibulan, Pamalayan Pajambon ( Sang Gereba ), Ragawacana, Sindang Barang (Prabu Sweta Liman Sakti), Karang Mangu, Cikaso ( Sang Tumenggung ), Deunuh Raja Danu (Buyut Dalem Tapa Raden Sanjaya Haris Dharma, Resi Guru Jantake), Cengal (Prabu Dipati Karna Marungu), Cikeleng (Prabu Jaya Manggala), Indrapatra Cilimus (Prabu Wiratara, Ratu Citra Kirana), Sangkanhurip (route Raden Cakra Buana), Lingga Jati, Lingga Sana ( Pakuwan), Setia Negara, Paniis, Pada Benghar, Wanayasa Caracas (Prabu Surya Negara Maruyung, Sri Jaya Bupati).

    Wassallamuallaikum wr wb.

    Bumi Awangga Pura Raksa Payung Nagara.
    (Sri Candra Patikusuma – Susuhunan Luhur Mulia Kuningan)

  5. Dimana Keraton SRI BIMA PUNTA NARAYANA MADURA SURADIPATI?
    “BOA-BOA” itu bukan KERATON BERJAJAR LIMA, tapi bisa jadi sebuah keraton yang bernama: Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.
    Ada kemungkinan kata kuncinya adalah SRI BIMA.
    Sri = Sari = Inti = PUSAT
    Bima = Titik BUMI
    Sri Bima = PUSAT TITIK BUMI
    Mungkin arti dari Sri Bima adalah PUSAT TITIK BUMI = SUNDAPURA = SURALAYA = PARAHYANGAN.

    Bisa jadi ini keraton ‘Khalifatulard’ sebagai PUSAT DUNIA atau IBUKOTA DUNIA. Jika demikian tentu berbeda dengan Keraton Galuh atau Keraton Pakuan yang cakupannya hanya seluas Nusantara.

    Dimana Telaga MAHA RENA (Rena Maha Wijaya)?
    Maha Rena = AREAL YANG SANGAT LUAS.
    Telaga yang paling besar di Jawa Barat telaga apa?
    Jangan-jangan adalah TELAGA BANDUNG atau DANAU BANDUNG.

    Apa itu Lawang Saketeng?
    Lawang Saketeng kemungkinan SANGHYANG TIKORO yang berpungsi untuk memempat saluran air agar Danau Bandung berisi air atau sebaliknya.

    Apa itu GUGUNUNGAN yang dibuat oleh Prabu Siliwangi?
    Gugunungan adalah GUNUNG BOHONG-BOHONGAN, yaitu bukan gunung alam tapi gunung yang sengaja dibuat agar tanah menjadi tinggi & tidak terendam oleh Danau Bandung.
    Gunung Bohong-bohongan bisa dicurigai adalah GUNUNG BOHONG yang terletak antara CIMAHI~BATUJAJAR.

    Prabu Siliwangi mengeraskan jalan dengan batu atau batu yang ditata berjajar sebagai pengeras jalan, dimana lokasinya?
    Sepertinya lokasi yang logis yaitu di BATUJAJAR.

    Dimana Nusalarang?
    Apakah Nusalarang adalah PADALARANG?

    Dimana Hutan Samida?
    Samida = SAMIDANG
    Samidang merupakan kata “sawanda” dengan SUMEDANG.

    Perhatikan di Pusat Parahyangan dikenal istilah:
    1)KEBON RAJA atau KEBUN KERAJAAN. Kebun Kerajaan apa ya?
    2)TAMAN SARI atau TAMAN KERAJAAN. Taman Kerajaan apa ya?
    3)TEMPURAN SUNGAI & Pulau Sari di Sungai Cikapundung.

    Maaf saya hanya iseng sambil MERABA-RABA SAJA dan belum pasti kebenarannya, namun PATUT DICURIGAI sebagai target penelitian.

    Selamat berandai-andai
    Terima kasih.

    • Luarbiasa pak. Smoga ada kebenaran pada yg bapak sampaikan. Saya sbgai orang Sunda pituin senang skali akan ada banyak yg peduli lemah cai. Tapi saya hny bs mengagumi. Blm bs berbuat banyak. Insyaalloh Lestari. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s