BAMBANG SURYA NINGRAT

Diceritakan di keraton negara Purba Kencana, prabu Purba Sakti sebagai raja di negara tersebut sedang bercengkrama dengan patih kerajaan bernama Purba Denta dan seorang senopati. Mereka sedang membicarakan tentang putri raja yang baru pulang menuntut ilmu di suatu pesantren. Prabu Purba Sakti merencanakan pernikahan putri tunggalnya yang bernama Dewi Purba Ningrum, seorang putri yang sudah terkenal kecantikannya sampai keluar negara. Prabu Purba Sakti berencana mengadakan sayembara dalam rangka mencari calon suami untuk putrinya tersebut. Sang patih yang akan menjadi jago dalam sayembara tersebut, peraturan sayembara yaitu barang siapa yang bisa mengalahkan sang patih dalam mengadu ilmu kesaktian maka dia berhak menjadi suami Dewi Purba Ningrum.

Pada suatu hari utusan dari kerajaan Astina yaitu Resi Dorna ditemani oleh anaknya, Aswatama dan beberapa orang Korawa (Citrayuda, Citraksa, Citraksi dan lain lain) datang ke Purba Kencana, mereka bermaksud menyampaikan lamaran dari raja Astina yakni Prabu Duryudana untuk anaknya yang bernama Raden Mandra Komara. Tetapi dikarenakan prabu Purba Sakti menginginkan calon menantunya itu orang yang bisa mengalahkan sang patih dalam sayembara maka terpaksa utusan dari negara Astina itu harus bertarung dulu sebagai perwakilan dari Raden Mandra Komara yang tidak ikut serta dalam rombongan.
Satu persatu utusan dari negara Astina dapat dikalahkan, mereka tak kuasa melawan kesaktian patih Purba Denta. Dikarenakan mereka kalah dalam sayembara tersebut maka merekapun pulang dengan tangan hampa.

Saat perjalanan pulang menuju negara Astina, ditengah jalan secara kebetulan mereka bertemu dengan Arjuna yang sedang bingung mendapat amanat dari Prabu Yudistira untuk mencari Pusaka Layang Jamus Kalimusada yang hilang dari kerajaan Amarta. Betapa gembiranya Arjuna bertemu dengan Resi Dorna yang merupakan salah satu Guru yang paling dia percaya segala petuahnya. Arjuna pun meminta bantuan Dorna untuk memberikan gambaran kemana dia harus mencari pusaka tersebut. Bukan Resi Dorna namanya kalau omongannya tidak disertai dengan fitnah. Maka dengan alasan kebencian pada keluarga Semar Badranaya, Dorna pun menyuruh Arjuna untuk datang ke Tumaritis tempat keluarga Semar tinggal. Dorna menyebutkan kalau pusaka itu bukan hilang tetapi dicuri oleh keluarga Semar. Mendengar hal itu Arjuna langsung terhasut, tanpa pikir panjang dia bergegas ke Tumaritis untuk menemui Semar sekeluarga dengan maksud membunuh mereka.

Tak diceritakan diperjalanan sampailah Arjuna ke rumah Semar di Tumaritis, Arjuna langsung bertanya kepadanya tentang pusaka Layang Jamus Kalimusada yang hilang tersebut dan langsung menuduh kalau mereka telah mencurinya. Semar bergeming tidak mengaku, karena memang sebenarnya keluarganya tidak mencuri pusaka tersebut. Karena mereka terus tidak mengaku, akhirnya Arjuna dengan kemarahannya langsung mencabut senjata dan menebaskannya ke leher Semar. Tapi belum sampai senjata itu ke lehernya, tiba tiba Semar menghilang dari pandangan Arjuna. Karena Semar menghilang, akhirnya diapun melampiaskan amarahnya kepada Astrajingga dan Dawala yang saat itu ada dihadapannya. Melihat Arjuna mengamuk Astrajingga dan Dawala langsung lari keluar berusaha menghindar, mereka berlari sekencangnya dengan kekuatan tenaga mereka. Dikarenakan kedua anak Semar itu telah berlari jauh, Arjunapun mengeluarkan gondewa dan anak panah untuk memanah Astrajingga dan Dawala. Panah pun langsung melesat dari gondewa sang Arjuna. “Takdir teu bisa dipungkir kadar teu bisa disinglar”, Dawala yang lari di belakang Astrajingga terpanggang tengorokannya oleh panah yang dilepaskan oleh Arjuna, saking kencangnya panah melesat Dawala sampai terbawa terbang oleh panah tersebut dan menancap dipohon besar yang tinggi. Darah mengalir deras dari lehernya dan menetes tepat ditangan Astrajingga yang sedang berteriak teriak memanggil Dawala yang tiba tiba hilang. Sadar ada darah yang menetes ke tanganya Astrajingga mendongakkan kepala, betapa terkejutnya dia melihat Dawala yang tertancap lehernya dan tergantung diatas pohon. Astrajingga terus menangis melihat saudara meninggal dengan sangat tragis. Tak lama kemudian tiba tiba ada sebuah cahaya melesat menyambar jasad Dawala yang tak tahu entah kemana cahaya itu hilang sekejap dibarengi dengan hilangnya jasad Dawala.

Bersambung….

One thought on “BAMBANG SURYA NINGRAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s