Upacara Adat Aruh Ganal Suku Dayak Bukit (Meratus)

Indonesia memiliki beragam suku bangsa yang tersebar di berbagai pulau nusantara. Diantaranya terdapat di pulau Kalimantan tepatnya di Provinsi Kalimantan Selatan. Loksado menjadi salah satu tujuan wisata bagi yang bosan dengan keriuhan kota, disana kita akan merasakan kesejukan udara dan pemandangan alam yang masih asri, hutan yang masih terjaga keasliannya karena kentalnya adat disana. Sungai Amandit yang berair bening dan menyegarkan menjadi salah satu sumber penunjang kehidupan sehari hari penduduk sekitar. Masyarakat Dayak Bukit atau Meratus adalah penganut kepercayaan Kaharingan atau kepercayaan terhadap Roh Leluhur.

Kali ini kita akan secara langsung menyaksikan upacara adat Aruh Ganal. Upacara ini dilaksanakan sebagai tanda syukur masyarakat Dayak Bukit atau Meratus atas panen yang melimpah. Upacara ini dilaksanakan di Balai Adat Tanginau yang masih berada di wilayah Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Untuk mencapai ke Balai Adat Tanginau, kita akan menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pintu gerbang obyek wisata Loksado dengan jarak kurang lebih 6 Km. Perjalanan itu kita tempuh dengan mengendarai sepeda motor melewati sebagian jalan beton yang lebarnya sekitar 1,5 meter (panjang jalan beton sekitar 2,5 km) dan sisanya jalan tanah padat kurang lebih selebar jalan beton tadi. Bahkan diselingi jalan setapak melalui hutan dengan tanjakan serta turunan curam.

Setelah menempuh perjalan tersebut maka sampailah kita ke Balai Adat Tanginau, disana telah ramai dengan hadirnya masyarakat dayak sekitar ditambah tamu dari pemerintahan kecamatan setempat serta undangan. Adapula terlihat beberapa turis mancanegara yang hadir. Memasuki rumah adat kita disambut dengan senyum keramahan seraya mempersilahkan menyantap hidangan yang memang sengaja disediakan untuk para tamu yang berkenan hadir untuk menyaksikan kegiatan upacara adat tersebut. Tak lupa kita menemui kepala adat, dalam hal ini yaitu bapak Amban sebagai Penghulu Balai Adat Tanginau seraya meminta izin untuk mengambil gambar selama upacara adat berlangsung. Beberapa warga terlihat sibuk mempersiapkan segala perlengkapan upacara.

Persiapan kelengkapan upacara adat

Persiapan kelengkapan upacara adat

Sesuai dengan kepercayaan Kaharingan yang mereka anut dalam upacara itu mereka menyiapkan sesajian sebagai persembahan untuk Roh Leluhur.

Sesajian persembahan untuk Roh Leluhur
Sesajian persembahan untuk Roh Leluhur
Penghulu adat membaca do’a (mantra) di depan sesajian
Penghulu adat membaca do’a (mantra) di depan sesajian
Prosesi pembacaan do’a (mantra) diiringi tarian

Prosesi pembacaan do’a (mantra) diiringi tarian

Setelah selesai prosesi pembacaan do’a (mantra), selanjutnya sesajian dipindahkan ke altar yaitu semacam panggung berundak yang dihiasi oleh daun kawung muda yang berwarna kuning serta ukir ukiran khas suku dayak bukit.

Sesajian dipindahkan ke altar (panggung berundak)

Sesajian dipindahkan ke altar (panggung berundak)

Menyusun sesajian pun telah dilaksanakan, selanjutnya acara tari tarian yang dimulai oleh para wanita sambil mengelilingi altar. Tarian yang dilakukan oleh wanita disebut dengan Tari Babangsai. Adapun tarian sambil mengelilingi altar yang dilakukan oleh pria disebut Tari Kanjar.

Tari Babangsai oleh para wanita suku dayak bukit

Tari Babangsai oleh para wanita suku dayak bukit

Menabuh gendang mengiringi tari tarian

Menabuh gendang mengiringi tari tarian

Setelah acara ritual selesai dilaksanakan maka acara terakhir yakni pembacaan do’a (mantra) yang dilakukan oleh para tetua adat sambil mengelilingi Altar. Menurut salah satu sumber yang kami tanya bahwa pembacaan mantra tersebut dilakukan semalam suntuk sampai pagi menjelang (karena saat itu penulis tidak menyaksikan upacara sampai pagi, hanya sampai sekitar pukul 01.00 wita).

Ritual Penutup – Pembacaan do’a (mantra) oleh para tetua adat

Ritual Penutup – Pembacaan do’a (mantra) oleh para tetua adat

Demikianlah acara adat Aruh Ganal yang rutin dilaksanakan oleh Suku Dayak Bukit (Meratus) sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta yang telah memberikan hasil bumi yang melimpah. Semoga upacara adat ini tetap lestari sebagai jati diri Bangsa Indonesia.

Dan penulis berharap semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua itu, bahwa semua anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia patut dan wajib kita syukuri.

Salam Walagri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s